Hutan Dirambah, Aceh Selatan Banjir Bandang, Eh..Bupati Singkil Mau Ngasi Duit

ACEH | Banjir terjadi di sejumlah kawasan di Provinsi Aceh. Diantaranya terparah, yakni banjir bandang di Desa Krueng Bate, Kecamatan Trumon Tengah, Kabupaten Aceh Selatan. Sedikitnya 92 unit rumah tertimbun lumpur akibat banjir bandang disebabkan terus gencarnya perambahan hutan dan pembukaan lahan perkebunan tersebut.

Pantauan dan data serta informasi diperoleh, banjir bercampur lumpur ikut dan batang kayu serta balok ukuran besar serta kecil sisa-sisa pembalakan liar tersebut, menimpa dan menimbun rumah warga. Hingga Minggu (29/11/2015), warga dan Tim SAR Aceh Selatan masih melakukan upaya evakuasi dan pembersihan akibat banjir bandang yang terjadi pada Jumat malam kemarin tersebut.

“Satu unit rumah penduduk yang rusak berat akibat tertimpa pohon kayu, milik Kamarudin (70). Sementara satu unit lagi milik Jaiton (50) seorang janda, juga rusak berat akibat dihantam arus banjir. Sedangkan lainnya tertimbun lumpur,” terang pimpinan Tim SAR Aceh Selatan, Mayfendri, sesaat lalu.

Disebutkannya juga, di Desa Pulo Paya dan Gunung Kapur, juga terjadi banjir hingga mencapai lebih setengah meter. Namun tidak ada diketahui jatuhnya korban jiwa. Sedangkan kerugian materil mencapai miliaran rupiah.

Selain merusak rumah warga, banjir bandang juga merusak fasilitas umum seperti jalan, jembatan, masjid, bangunan sekolah, fasilitas kesehatan seperti puskesmas, dan lahan perkebunan maupun pertanian,” jelasnya.

Duakuinya, banjir bandang diduga disebabkan perambahan, hingga muara sungai di desa setempat tersumbat pohon kayu dan tanah. Akibat penyumbatan itu, aliran sungai beralih ke jalur lain. Arus banjir pun menghantam pemukiman penduduk.

“Puluhan warga korban banjir bandang sempat diungsikan sementara ke lokasi yang lebih tinggi. Hal itu dilakukan untuk menghindari jatuhnya korban jiwa,” terangnya.

Hingga pagi tadi, upaya penanganan darurat terus dilakukan. Mereka memotong sejumlah pohon kayu yang menimpa rumah warga.

“Termasuk memberikan bantuan untuk pembersihan rumah korban banjir yang tertimbun lumpur,” kata Mayfendri.

Sebagaimana diwartakan sebelumnya, Tim Mabes Polri dipimpin Kombes Charles Marpaung, pernah menggrebek kilang kayu perambahan milik keluarga dan bupati Singkil, Safriadi di kawasan Aceh Selatan hingga Aceh Singkil. Sejumlah kilang kayu dan gudang penimbunan hasil rambahan, dipasang garis polisi dan Bupati Singkil tersebut diperiksa secara intensif. Namun setahubagaimana, Safriadi yang selain menjual kayu hasil rambahan juga memperluas lahan perkebunan kelapa sawitnya, lepas dari jeratan hukum.

Saat dikonfirmasi via selular, Bupati Singkil, Safriadi malah meminta tolong agar perambahan hutan dan statusnya yang sempat ditetapkan Mabes Polri sebagai tersangka, jangan diberitakan. Safriadi meminta tolong bertemu dengan kru www.medanseru.co, guna membicarakan ‘uang capek dan uang minyak serta tetek bengek lainnya’.

“Ketamu lah kita dulu pak, kan lebih enak bersahabat. Segala akomodasi dan biaya saya tanggung,” kata Safriadi.

Catatan wartawan, Kabupaten Aceh Singkil bersebelahan dengan Kabupaten Aceh Selatan. Kabupaten pimpinan Safriadi tersebut adalah hasil pemekaran dari Kabupaten Aceh Selatan, Provinsi Aceh.

Sumber

Comments on Facebook