Binjai.AnalisaOne.com — Harapan masyarakat Binjai yang tengah membara karena pengesahan anggaran jasa pengamanan pimpinan DPRD senilai 600 juta rupiah, tiba-tiba padam seperti lilin.
Aksi yang dilantangkan mahasiswa dari “Persatuan Pemuda dan Mahasiswa Sumut” dan “Binjai Bergerak” yang sempat bergema dengan janji menggelar aksi pada Kamis 5 Desember kemarin, akhirnya mundur tanpa jejak, melukai hati rakyat yang tertekan dan kecewa parah.
Pembatalan ini jatuh seperti hujan es di tengah kondisi Binjai yang semakin memprihatinkan, bahkan kota Binjai tengah menjalani efisiensi anggaran yang ketat, sementara banjir baru saja melanda sebagai musibah besar yang belum selesai ditangani.
Uang publik yang seharusnya dialokasikan untuk pemulihan dan kebutuhan dasar rakyat, justru diarahkan untuk jasa pengamanan ketua dan wakil ketua DPRD Binjai ditengah kebijakan yang menyentuh rasa tidak adil ke masyarakat.
“Tak jadi bang, tadi katanya diundur sampai habis Jumat, tapi hingga sekarang tidak ada tanda-tanda juga,” ungkap petugas Polsek Binjai Kota, mengkonfirmasi keputusaan yang tiba-tiba dan tanpa pemberitahuan jelas.
Menanggapi tidak jadi aksi, Ferdinand Sembiring, SH, MH, seorang praktisi hukum yang menjadi suara masyarakat menyampaikan perasaan kecewa dengan tegas dan tajam.
“Ini jelas melukai hati mereka (masyarakat) yang sudah memandang mahasiswa sebagai perpanjangan tangan. Aksi demo adalah hak yang jelas dilindungi undang-undang untuk mengkritik kebijakan yang tidak pro-rakyat, tapi apa yang dilakukan mereka terkesan menakut-nakuti diduga agar mendapatkan sesuatu”kata Ferdinand.
Lebih jauh, Ferdinand menyoroti bahwa pembatalan ini bukan hanya merusak harapan, melainkan juga mencoreng nilai kemahasiswaan Sumatera Utara yang seharusnya penuh semangat perjuangan.
“Diduga mereka hanya mencari sorotan dan keuntungan, bahkan mencoba menakut-nakuti eksekutif serta legislatif, bukan benar-benar berjuang untuk kepentingan rakyat. Ini membuat malu para mahasiswa lain di Binjai yang sungguh-sungguh peduli.”Kesalnya.
Dia bahkan mendesak Kapolda Sumatera Utara melalui Kapolres Binjai untuk lebih aktif mengawasi kasus serupa ke depannya.
“Jangan biarkan aksi semacam ini berubah jadi modus kejahatan baru, menjanjikan aksi hanya untuk menakut-nakuti dan mendapatkan sesuatu tanpa melakukan apa-apa.” Sebutnya.
Tanpa penjelasan yang memuaskan dari pihak mahasiswa, masyarakat Binjai kini ditinggalkan dengan pertanyaan yang mengganggu dan menunggu harapan baru apakah mereka benar-benar peduli dengan nasib rakyat, atau hanya sekadar memanfaatkan kemarahan publik untuk kepentingan sendiri.(Tim).
