Deliserdang.AnalisaOne.com – Menjelang pelaksanaan Musyawarah Nasional (Munas) XVIII Himpunan Pengusaha Muda Indonesia (HIPMI), peta kekuatan politik di organisasi pengusaha muda terbesar di tanah air itu kian terang benderang.
Nama Ade Jona Prasetyo, kini menjadi sorotan utama dan disebut-sebut sebagai figur dengan elektabilitas tertinggi, yang bahkan dinilai telah membuat kandidat lain kehilangan arah dan memilih jalan keluar tak terduga, walkout atau hengkang dari sesi debat.
Aksi tiga calon Ketua Umum (Caketum) yang meninggalkan ruangan debat pada putaran kedua di Bali beberapa waktu lalu, memicu beragam penilaian. Salah satu yang angkat bicara tegas adalah Ahmad Fauzi, akrab disapa Ozi, tokoh pemuda Deli Serdang yang juga Owner Oz Production serta Ketua Bidang Pariwisata, Ekraf dan Infokom BPC HIPMI Kabupaten Deli Serdang.
Menurut Ozi, alasan yang dilontarkan ketiga kandidat yang menyebut adanya keberpihakan Gubernur hanyalah dalih belaka. Di balik langkah mundur itu, terlihat jelas ketidakberdayaan menghadapi gelombang dukungan masif yang memeluk sosok Ade Jona Prasetyo.
“Kalau saya melihat, isu soal gubernur mendukung salah satu kandidat itu cuma alasan belaka, pengalihan isu semata. Faktanya, tiga caketum itu sudah melihat sendiri bahwa dukungan kepada Bang Ade Jona Prasetyo memang sudah tidak terbendung lagi. Di atas kertas, publik HIPMI juga sudah bisa membaca arah kemenangan siapa yang paling kuat,” tegas Ozi dengan pandangan tajam.
Bagi Ozi dan ribuan kader yang bersatu di belakang Ade Jona, dukungan yang mengalir deras itu bukan lahir dari kampanye pencitraan sesaat atau rekayasa politik.
Dukungan ini tumbuh alami, berakar kuat pada kualitas sosok Ade Jona yang dinilai memiliki rekam jejak, jaringan, dan kemampuan membangun komunikasi lintas daerah yang jauh lebih matang dan mapan dibandingkan kandidat lainnya.
Ia pun menegaskan bahwa Panitia Pengarah (SC) dan Panitia Pelaksana (OC) telah bekerja sesuai mekanisme organisasi.
Munas harus tetap berjalan pada koridor yang benar. Oleh karena itu, menciptakan narasi ketidakadilan hanya karena peta dukungan sudah jelas terlihat, dinilai sebagai sikap yang tidak dewasa.
“Jangan sedikit-sedikit membangun opini seolah ada ketidakadilan hanya karena elektabilitas kalah jauh. Kompetisi itu wajar, tapi harus sehat,” tambahnya.
Sikap memilih hengkang saat debat berlangsung pun disentil keras oleh Ozi. Baginya, kepemimpinan di HIPMI bukan hanya soal jabatan, melainkan tentang mentalitas petarung.
Di mata pendukungnya, Ade Jona hadir sebagai figur yang berani tampil, berani berdebat, dan berani mempertanggungjawabkan visi misinya di hadapan publik. Sebaliknya, tindakan meninggalkan forum dianggap sebagai bukti kelemahan mental.
“Kalau mental belum tahan menghadapi dinamika Munas, lebih baik mundur saja dari pencalonan. Jangan memaksakan diri ingin jadi Ketua Umum HIPMI kalau menghadapi tekanan debat saja sudah walkout. HIPMI butuh petarung, bukan pencari alasan. Dan Bang Ade Jona Prasetyo adalah contoh nyata sosok yang dicari kader-kader HIPMI saat ini,” ujar Ozi dengan nada tegas.
Lebih dalam, Ozi melihat Ade Jona sebagai representasi dari energi baru yang sangat ditunggu generasi muda pengusaha Indonesia.
Sosok yang tidak hanya membawa visi ekonomi, tetapi juga kemampuan menyatukan barisan, membawa organisasi ke arah yang lebih progresif, solid, dan jauh dari narasi korban.
“Bang Ade Jona adalah representasi energi baru HIPMI. Dukungan akar rumput bergerak alami, dari bawah ke atas, menyatu karena visi yang sama. Jadi kalau hari ini ada pihak yang mulai panik, ya itu konsekuensi dari kompetisi. Kemenangan tidak didapatkan dengan jalan keluar pintu, tapi dengan bertarung di dalam arena,” pungkas Ozi, menegaskan bahwa nama Ade Jona Prasetyo kini berdiri tegak sebagai harapan baru masa depan HIPMI.(ri).
