DELI SERDANG.analisaone.com – Warga Desa Nagarejo, Kecamatan Galang, Kabupaten Deli Serdang, Sumatera Utara, kini diliputi kekhawatiran dan kemarahan.
Aktivitas pemasangan tiang jaringan WiFi yang berlangsung sekitar satu minggu terakhir dinilai serampangan, didirikan di lahan pribadi tanpa izin, disertai ancaman intimidasi, dan identitas pihak yang bertanggung jawab sengaja ditutup-tutupi seolah makhluk “siluman” yang datang diam-diam di kegelapan malam.
Ketegangan paling terasa di Dusun VI Nagarejo. Warga di sana memprotes keras tiang-tiang yang didirikan di atas tanah milik pribadi mereka tanpa pemberitahuan sebelumnya, tanpa persetujuan tertulis, dan tanpa pembayaran ganti rugi maupun sewa lahan yang layak.
Puncak kekesalan warga terjadi ketika salah satu pemilik lahan yang tegas tidak memberikan izin, justru mendapat intimidasi langsung.
Sekitar pukul 22.00 WIB, rumahnya didatangi dua orang oknum yang dikenal dengan panggilan “Mas B” beserta rekannya. Kedatangan mereka penuh nada kasar dan ancaman.
“Jangan merasa hebat atau punya pelindung, hadapi saja aku! Aku tidak takut pada siapa pun!” demikian ancaman yang dilontarkan oknum tersebut, membuat seluruh keluarga di rumah itu merasa terancam dan ketakutan.
Keanehan semakin mencolok saat warga maupun awak media menanyakan siapa sebenarnya penyedia jasa atau perusahaan yang menjalankan proyek ini.
Namun semua pihak yang diduga terlibat, baik oknum di lapangan maupun perangkat desa seolah saling lempar tanggung jawab, tidak mau menjelaskan asal-usul perusahaan, dan menutup-nutupi informasi.
“Pemasangan ini ibarat makhluk siluman, datang diam-diam, bergerak dalam gelap, dan tidak mau menunjukkan wajah aslinya,” keluh seorang warga yang enggan disebut namanya.
Saat diminta menunjukkan bukti legalitas, seorang Kepala Dusun menyebut sudah ada koordinasi dengan Kepala Desa. Namun hingga saat ini, tidak satu pun dokumen fisik perizinan yang dapat diperlihatkan kepada warga.
Kekhawatiran warga bukan hanya soal tanah dan hak milik, tetapi juga keselamatan nyawa. Kabel-kabel yang terpasang semrawut dan menjuntai di jalanan telah menyebabkan kecelakaan.
Beberapa hari lalu, seorang warga bahkan terjerat kabel berserakan di area Tipe Pentol hingga terjatuh saat hendak berangkat kerja ke Tanjung Morawa.
Warga menyatakan sikap tegas tidak akan mengizinkan pekerjaan ini berlanjut selama identitas pihak penanggung jawab belum jelas, dokumen perizinan belum lengkap, dan cara-cara intimidasi masih terus terjadi.
“Kami tidak menolak kemajuan dan jaringan yang baik untuk warga. Yang kami tolak tegas adalah pembangunan yang berjalan dalam kegelapan, menginjak hak milik orang lain, dan menebar ancaman kepada warga yang ingin membela haknya,” tegas perwakilan warga Dusun VI Nagarejo.(Sahrul Anwar).
