BINJAI.AnalisaOne.com – Kasus kecelakaan tunggal yang menimpa truk tangki pengangkut Bahan Bakar Minyak (BBM) diduga milik Pertamina Patra Niaga di Jalan Perintis Kemerdekaan, Kelurahan Kebun Lada, Kecamatan Binjai Timur, masih menyisakan tanda tanya besar.
Publik mempertanyakan transparansi penanganan kepolisian, terutama setelah sang sopir diduga menghilang tanpa jejak dan tidak dilakukan pemeriksaan jelas oleh Kasat Lantas Polres Binjai.
Saat dikonfirmasi awak media terkait nasib sopir dan kelengkapan administrasi kendaraan, Kasat Lantas Polres Binjai, AKP Jansen Indra Girsang, tampak enggan bersuara dan memilih membungkam. Jumat, (1/5).
Sikap diam ini semakin memperkuat dugaan kuat bahwa ada upaya sengaja untuk menutup-nutupi kasus yang melibatkan kendaraan milik BUMN tersebut.
Fakta di lapangan menunjukkan, usai kejadian, sopir tidak terlihat lagi di lokasi. Sementara para pekerja diduga dari PT Elnusa Petrofin yang datang justru tampak tertutup dan enggan dimintai keterangan terkait identitas pengemudi.
“Nanti kasus ini ada presrilis langsung dari Pertamina bang.saya tidak berani memberikan keterangan” ungkap para pekerja.
Aksi menutupi bodi truk menggunakan terpal semakin memicu spekulasi publik bahwa ada hal penting yang disembunyikan pihak terkait.
Disamping itu, kecurigaan masyarakat semakin memuncak lantaran kasus ini terjadi di tengah maraknya praktik penyalahgunaan BBM subsidi di Sumatera Utara.
Salah satu warga, mengaku marga Harahap menilai penanganan polisi terkesan “berbeda” jika dibandingkan saat menangani kasus kepada warga biasa.
“Sudah sering terjadi pembelian BBM subsidi, lalu dijual dengan harga industri. Kami curiga, apakah surat jalan (DO) dan muatan di dalam tangki itu benar sesuai izin? Ini harus diperiksa ketat oleh polisi, apalagi penyebabnya diduga karena sopir mengantuk,” ujarnya.
Warga juga menyoroti kemungkinan adanya pemeriksaan kesehatan terhadap sopir. Mengingat kecelakaan fatal, standar operasional seharusnya memeriksa kondisi fisik, termasuk tes narkoba atau pengaruh obat-obatan terlarang. Namun hingga kini, tidak ada informasi resmi mengenai hal tersebut.
“Kalau pelakunya warga biasa, pasti sudah diperiksa habis-habisan, bahkan langsung diamankan. Kenapa yang ini dibiarkan? Kami curiga sopir tidak diperiksa karena ada indikasi mengonsumsi obat terlarang atau ada perlindungan khusus,” tegasnya.
Masyarakat kini menuntut Polres Binjai bertindak tegas dan transparan. Kasus ini tidak boleh dianggap selesai hanya karena kendaraan sudah dievakuasi, namun kebenaran di balik muatan dan identitas sopir masih gelap.
“Kami berharap polisi berani membongkar semuanya agar terang benderang. Jangan ada perlakuan istimewa hanya karena ini kendaraan milik perusahaan plat merah,” pungkas Harahap.(ri).
