MEDAN.analisaone.com – Keresahan melanda warga Medan dan Binjai setelah kelangkaan Bahan Bakar Minyak (BBM) jenis Pertalite, Pertamax, maupun Solar berlangsung sudah tiga hari berturut-turut.
Ratusan pengendara sepeda motor dan mobil terpaksa mengantre berjam-jam di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di sepanjang jalan Medan – Binjai demi mendapatkan pasokan, namun belum ada langkah nyata dari pemerintah untuk mengatasi masalah ini.
Kekecewaan mendalam disampaikan Rizal, warga Binjai yang ikutan mengantri panjang di SPBU Kebun Lada. Ia menilai beban kesulitan ini justru jatuh sepenuhnya kepada rakyat kecil yang tak berdosa.
“Kami tidak tahu urusan di tingkat pusat, tapi jangan kami yang harus menanggungnya. Sudah tiga hari ini kami kesulitan BBM, apa sebenarnya tindakan pemerintah?” tegas Rizal. Senin, (13/7).
Lebih jauh, beberapa warga juga menduga kelangkaan BBM di Kota Medan dan Binjai merupakan upaya penimbunan sekaligus pengalihan isu, agar perhatian publik tidak lagi terpusat pada polemik yang terjadi antara Kepolisian dan Kejaksaan.
“Kami menduga ada yang sengaja menimbun BBM. Ini cara mengalihkan pandangan dari keributan di pusat, sampai akhirnya rakyat yang jadi korban dan menderita. Sabotase seperti ini sangat mengecewakan kami,” tambahnya.
Keresahan warga makin bertambah karena tidak terlihat kehadiran aparat di lapangan. Saat antrean memanjang dan kemacetan melanda jalan di sekitar SPBU, tak ada satupun personel kepolisian maupun petugas Dinas Perhubungan yang hadir untuk mengatur ketertiban dan arus lalu lintas.
“Kenapa saat BBM langka tidak ada polisi yang berjaga? Mengapa Dishub juga diam saja? Akibatnya jalan macet total dan kami makin susah beraktivitas,” keluh Rizal.
Sementara dibalik kelangkaan BBM di Sumatera Utara justru Pertamina Patra Niaga Sumut menjelaskan bahwa distribusi BBM di sejumlah wilayah Sumatera Utara menghadapi penyesuaian operasional armada distribusi.
“Dalam beberapa hari terakhir, proses distribusi dari Fuel Terminal Medan mengalami penyesuaian operasional sehingga penyaluran di sejumlah SPBU dilakukan secara bertahap. Dalam kondisi tersebut, distribusi dilakukan secara proporsional ke berbagai SPBU agar kebutuhan masyarakat di seluruh wilayah layanan tetap dapat terpenuhi,” ungkap Officer Communication & Relations Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Rafly Masyal Donta kepada wartawan.
Terkait hal ini, Rafly memastikan bahwa kondisi stok BBM di wilayah Sumut dalam kondisi aman. Pihaknya juga turut melakukan percepatan penyaluran ke seluruh SPBU.
“Meski demikian, stok BBM dalam kondisi aman. Saat ini Pertamina melakukan langkah percepatan distribusi dengan mengoptimalkan operasional Fuel Terminal Medan selama 24 jam setiap hari, memperkuat kapasitas distribusi melalui 15 unit mobil tangki dan 30 awak mobil tangki,” ucapnya.
Menanggapi hal itu, Rizal selaku warga justru menyebutkan bahwa pernyataan itu bukan sebagai langkah nyata dalam memenuhi pasokan BBM yang sudah tiga hari menjadi keresahan masyarakat.
“Pernyataan itu adalah bagian dalam upaya Pertamina melakukan bantahan dan pembelaan. Jika benar pasokan aman, kenapa di SPBU masih terjadi kelangkaan. Ini jelas adalah penggiringan seakan kinerja Pertamina sesuai SOP” ujarnya kesal.
Pun begitu ia meminta Presiden Prabowo Subianto agar segera turun tangan langsung, dan menilai perlu untuk mencopot Direktur Utama Pertamina yang dianggap gagal menjalankan tugasnya dalam memenuhi pasokan BBM di Sumatera Utara sehingga kelangkaan BBM masih terjadi.(ri).
