BINJAI.analisaone.com – Saat malam mulai menyelimuti Kota Binjai dan kebanyakan orang sudah bersiap beristirahat, ada pemandangan yang menyayat hati di sebuah jembatan.
Dua orang kakak-beradik yang masih sangat kecil terlihat duduk diam di sana, menembus dinginnya malam demi mengais uluran rezeki.
Di tengah kesunyian itu, hadir sosok seorang Perwira Menengah Utama (PJU) Polres Binjai yang datang bukan untuk menegur, melainkan untuk merangkul dan berbagi.
Bagi sang perwira, mendatangi mereka bukanlah hal yang seharusnya dihindari atau dianggap memalukan. Justru sebaliknya, baginya menyambangi mereka adalah bentuk perbuatan terpuji yang seharusnya tumbuh di hati setiap insan manusia.
Melihat ketulusan anak-anak kecil yang berjuang di tengah kerasnya kehidupan menjadi panggilan jiwa yang tak bisa ia abaikan.
“Memberikan bantuan kepada mereka yang hidup dalam bayang-bayang kesusahan adalah impian setiap orang yang memiliki rezeki lebih. Apalagi melihat dua anak ini yang harus berjalan berdua hingga larut malam demi mencari nafkah dan bantuan orang lain. Pemandangan ini seolah menampar diri saya sendiri, mengingatkan untuk segera berbagi sebagian apa yang Tuhan titipkan kepada saya,” ujarnya dengan suara lembut namun penuh ketulusan.
Kisah perjuangan mereka mengingatkan kembali pada lantunan lagu legendaris Iwan Fals yang berjudul Tugu Pancoran.
Gambaran anak-anak yang berkelana tanpa waktu di malam hari demi selembar rezeki, menyentuh hati sang perwira untuk berhenti sejenak dari kesibukannya dan menghampiri mereka.
Meski usia mereka masih sangat belia, beban hidup yang harus dipikul terasa jauh lebih berat dibandingkan teman-teman sebayanya yang seharusnya hanya bermain dan belajar.
Sang perwira menegaskan, apa yang dilakukannya bukanlah untuk mencari pujian atau sorotan mata.
Langkah kakinya menuju ke sana murni lahir dari panggilan hati yang tak tega melihat anak-anak kecil harus berjuang sendirian menghadapi kerasnya dunia.
Setiap kali ia melihat mereka duduk di bawah remang lampu jembatan yang berwarna kuning, hatinya tergerak untuk berhenti dan menyapa.
Cahaya yang temaram itu seolah menjadi saksi bisu kebaikan yang tumbuh dari kesederhanaan seorang pelindung masyarakat ini.
Kehidupan yang keras dan penuh ujian ini menjadi pukulan bagi hati kita semua.
Ia mengajarkan betapa beruntungnya kita yang masih bisa beristirahat dengan tenang, sementara ada anak-anak yang harus berjuang agar hari esok tetap bisa terlewati.
Perbuatan mulia ini pun menyebar dan menyentuh hati masyarakat Binjai. Ia menjadi teladan nyata bahwa kebaikan tak mengenal pangkat dan kedudukan, melainkan lahir dari kepedulian yang tulus terhadap sesama manusia.
Semoga uluran tangan dan doa sang perwira menjadi jalan bagi Budi dan Badu untuk terus berjuang, tak kenal putus asa, hingga kelak mereka tumbuh menjadi orang-orang yang sukses, kuat, dan kelak bisa pula menolong orang lain yang sedang kesulitan.(ri).
