Binjai.analisaone.com – Sebuah insiden mencengangkan terjadi di lingkungan Pengadilan Negeri (PN) Binjai, Sumatera Utara. Seorang terdakwa dalam kasus pencurian dengan pemberatan nyaris berhasil melarikan diri usai mengikuti persidangan dengan agenda pembacaan tuntutan.
Peristiwa ini langsung menimbulkan sorotan tajam terhadap kinerja pengawasan dan pengamanan tahanan di lingkungan peradilan.
Berdasarkan informasi yang dihimpun, insiden berlangsung usai persidangan yang dipimpin bersama Jaksa Penuntut Umum bernama Nico Mutiha Hutajulu, SH. Dari dua orang terdakwa yang hadir, satu di antaranya berusaha memanfaatkan kelengahan pengawalan untuk melarikan diri. Tindakan tersebut sontak membuat suasana ruang sidang dan area sekitar PN Binjai menjadi heboh.
Diduga, celah pelarian muncul akibat pengawalan yang kurang ketat. Saat proses pemindahan terdakwa menuju kendaraan tahanan usai sidang, pengamanan dianggap tidak berjalan maksimal sehingga memberikan kesempatan bagi terdakwa untuk kabur.
Menurut keterangan warga sekitar yang menyaksikan kejadian, pelaku sempat berlari menuju Jalan Gatot Subroto dengan arah Kota Medan. Namun nasib tidak berpihak padanya. Saat melintasi jalan utama tersebut, terdakwa tertabrak sepeda motor yang melintas hingga terjatuh. Kejadian itu membuatnya tidak bisa melanjutkan pelarian dan segera diamankan kembali oleh petugas pengamanan PN Binjai.
“Sempat lari setelah sidang, pas pengawalan lengah. Untung saja tidak jauh, terus tertabrak motor dan langsung ditangkap lagi sama petugas,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Humas PN Binjai, Ulwan Maluf, membenarkan terjadinya insiden tersebut. Ia menjelaskan bahwa terdakwa yang berusaha kabur itu merupakan tersangka kasus pencurian sepat.
“Betul, sempat ada upaya pelarian, namun terdakwa sudah langsung diamankan kembali. Informasinya ia kabur setelah selesai sidang, tepatnya saat akan dibawa masuk ke kendaraan tahanan. Kami masih menunggu keterangan lebih rinci terkait detail kejadiannya,” ungkap Ulwan saat dikonfirmasi wartawan.
Peristiwa ini memicu pertanyaan publik mengenai standar pengamanan yang diterapkan, mulai dari saat terdakwa dibawa ke pengadilan hingga selesai menjalani proses persidangan. Spekulasi pun bermunculan di tengah masyarakat mengenai kelemahan sistem pengawalan yang seharusnya berjalan ketat.
Insiden ini menjadi perhatian serius bagi dua lembaga terkait, yaitu Kejaksaan Negeri Binjai dan PN Binjai. Kedua institusi diminta untuk segera mengevaluasi dan meningkatkan fungsi Pengawalan Tahanan (Waltah) agar peristiwa serupa tidak terulang di kemudian hari.
Warga berharap adanya perbaikan sistem pengamanan yang lebih ketat dan profesional, sehingga tidak menimbulkan keraguan atau spekulasi negatif yang dapat merusak citra lembaga peradilan di mata masyarakat.(ri).
